BRMP–BMKG Perkuat Koordinasi Mitigasi Dampak Dinamika Atmosfer di Kepulauan Riau
Tanjungpinang – Tidak turunnya hujan dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Kepulauan Riau (Kepri), khususnya di sektor pertanian. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya laporan puso atau gagal panen pada komoditas tanaman pangan dan hortikultura, sehingga berpotensi menghambat program nasional swasembada pangan.
Berdasarkan pemantauan, sejumlah wilayah di Kepri mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 28 hari sepanjang Januari. Situasi ini turut memengaruhi pengembangan padi lahan kering yang menjadi salah satu program utama swasembada pangan di Kepri karena kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi secara optimal.
Menanggapi kondisi tersebut, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Kepulauan Riau melakukan koordinasi dengan Stasiun Meteorologi Kelas III Raja Haji Fisabilillah (Stamet RHF) Tanjungpinang pada 27 Januari. Pertemuan yang dihadiri oleh pimpinan kedua instansi beserta tim kerja masing-masing ini membahas kondisi aktual dinamika atmosfer, prediksi cuaca beberapa dasarian ke depan, serta langkah antisipasi dan mitigasi yang dapat dilakukan.
Ketua Tim Kerja Analisa Cuaca dan Iklim Stamet RHF Tanjungpinang, Atikah Rozanah Niri, menjelaskan bahwa penurunan curah hujan dipengaruhi oleh keberadaan Zona Konvergensi Intertropikal (ITCZ) yang terkonsentrasi di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kondisi tersebut menyebabkan massa udara tertarik ke wilayah tersebut, memicu angin kencang di Kepri dan menghambat pembentukan awan hujan.
Sementara itu, Kepala Stamet RHF Tanjungpinang, Ahmad Kosasih, menyampaikan bahwa hingga akhir Februari 2026 Kepri masih berpotensi mengalami HTH yang cukup tinggi. Hujan dengan intensitas sedang diperkirakan mulai terjadi lebih awal di Kabupaten Lingga dan Karimun pada dasarian ketiga Februari, sedangkan wilayah lain baru berpeluang menerima hujan pada dasarian ketiga Maret 2026. Puncak hujan pertama di Kepri diprediksi terjadi pada April, disusul periode hujan berikutnya pada September dan Oktober setelah kemarau Juli–Agustus.
Menanggapi prediksi tersebut, Kepala BRMP Kepri sekaligus Penanggung Jawab Program Swasembada Pangan Provinsi Kepulauan Riau, Ahmad Tohir Harahap, menyampaikan rencana mitigasi di sektor pertanian. Langkah tersebut meliputi penyesuaian lokasi dan waktu tanam padi lahan kering, dengan memprioritaskan wilayah yang masih memiliki potensi hujan seperti Karimun dan Lingga pada akhir Februari, serta penggeseran jadwal tanam di wilayah lain ke dasarian ketiga Maret. Penanaman serentak direncanakan pada April serta September dan Oktober 2026. Selain itu BBRMP Kepri juga akan mempersiapkan serangkaian inovasi teknologi pengairan yang akan didiseminasikan kepada petani untuk menyikapi kondisi tersebut.
Ia menambahkan, hasil koordinasi ini akan menjadi dasar justifikasi dan laporan kepada Kementerian Pertanian terkait pergeseran jadwal tanam dan potensi penurunan produksi akibat anomali cuaca.
Ke depan, kerja sama BRMP Kepri dengan BMKG akan terus diperkuat, tidak hanya dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem, tetapi juga melalui penyediaan prakiraan cuaca dasarian secara rutin dan pelibatan langsung tim BMKG dalam kegiatan lapangan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan terhadap informasi cuaca dan iklim sehingga produktivitas pertanian di Kepulauan Riau dapat lebih dioptimalkan.